Faktapalu.id — Pemerintah Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menaruh perhatian besar pada peningkatan kesejahteraan rakyat secara nyata. Dalam Rapat Paripurna di Gedung MPR/DPR Jakarta, Rabu (20/5/2026), Presiden meyakini bahwa tata kelola fiskal yang kuat akan berdampak langsung pada penurunan angka pengangguran dan kemiskinan pada tahun 2027.
Pemerintah secara resmi menetapkan target ambisius untuk tahun depan. Angka kemiskinan diproyeksikan turun drastis ke level 6,0% hingga 6,5%, lebih baik dari target tahun 2026 yang berada di rentang 6,5%–7,5%. Sejalan dengan hal itu, tingkat pengangguran terbuka juga ditargetkan menyusut menjadi 4,3% hingga 4,87%. Pemerintah turut membidik penciptaan lapangan kerja formal hingga 40,81% serta mendongkrak indeks kesejahteraan petani ke angka 0,8038.
Asumsi Sektor Energi dan Lifting Migas 2027
Untuk menopang target kesejahteraan tersebut, sektor energi dan stabilitas komoditas memegang peranan vital. Pemerintah menetapkan sejumlah asumsi makro untuk sektor minyak dan gas bumi sebagai berikut:
Asumsi Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP): Berada di angka US$ 70–95 per barel.
Target Lifting Minyak Mentah: Didorong mencapai 602.000–615.000 barel per hari.
Produksi Gas Bumi: Dipatok di kisaran 934.000–977.000 barel setara gas per hari.
Prabowo menegaskan bahwa kebijakan fiskal yang prudent (hati-hati) serta disiplin moneter akan menjaga inflasi domestik di level aman 1,5%–3,5% sekaligus menstabilkan nilai tukar Rupiah dari gejolak pasar global.
Batu Loncatan Menuju Pertumbuhan 8 Persen
Melalui strategi ekonomi yang terukur dan berkelanjutan ini, Kepala Negara optimis pertumbuhan ekonomi pada tahun 2027 akan mampu mencapai 5,8% hingga 6,5%.
Target performa makro ini sekaligus diplot menjadi batu loncatan serta fondasi penting untuk menggapai visi besar kampanye nasional, yakni akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional di level 8% pada tahun 2029 mendatang.
*(Drw)











