Faktapalu.id — Keberhasilan draf reformasi kultural di tubuh kepolisian nasional mendapat apresiasi nyata dari masyarakat. Cendekiawan dari Haidar Alwi Institute (HAI), Ir. R Haidar Alwi, menilai hasil draf survei terbaru yang dirilis oleh Litbang Kompas merupakan bukti empiris yang valid bahwa publik menaruh modal kepercayaan dan ekspektasi yang sangat besar bagi institusi Korps Bhayangkara untuk terus melanjutkan agenda pembenahan harian.
Dalam draf riset nasional tersebut, tingkat keyakinan publik terhadap masa depan performa kinerja Polri melesat menyentuh angka 82,4 persen. Haidar menjelaskan, lonjakan signifikan sebesar 6,2 poin dari angka sebelumnya yang tertahan di level 76,2 persen pada Oktober 2025 merupakan lompatan masif.
Survei yang menggunakan metodologi ilmiah ber-margin of error 2,83 persen ini merefleksikan optimisme kuat dari 1.200 responden yang tersebar secara proporsional di 38 provinsi bahwa institusi kepolisian berada di jalur transformasi hukum yang tepat.
“Lompatan angka kuantitatif ini merupakan buah manis dari konsistensi Polri dalam meningkatkan kualitas pelayanannya di berbagai lini kehidupan masyarakat, baik dalam aspek operasional maupun fasilitas fisik,” jelas Haidar Alwi, Jumat (26/6/2026).
Indikator Operasional Merangkak Naik, Fasilitas Polsek Kian Manusiawi
Haidar memaparkan bahwa indikator keberhasilan ini terlihat jelas dari pola kenaikan menyeluruh pada berbagai lapisan draf penilaian operasional di lapangan:
Citra Positif Polri: Merangkak naik secara meyakinkan dari 64,4 persen menjadi 71,5 persen.
Kepuasan Layanan Publik: Meningkat dari 65,1 persen menuju 67,6 persen.
Skor Profesionalitas: Pengalaman warga yang berurusan langsung dengan petugas mencatat kenaikan performa dari skor 7,76 menjadi 8,37.
Kenyamanan Fasilitas: Sebanyak 80 persen responden mengakui kondisi fisik kantor polisi kini dirasakan semakin nyaman, bersih, dan manusiawi.
Data empiris ini sekaligus mematahkan anggapan sinis segelintir pihak yang menilai kepolisian hanya berdasarkan kasus-kasus viral atau draf tindakan indisipliner oknum tertentu. Bahkan, sebanyak 80,6 persen masyarakat secara tegas mengonfirmasi bahwa performa operasional Polri saat ini jauh lebih baik dibandingkan dengan rapor tahun sebelumnya.
Pembersihan Internal Tanpa Kompromi: Sanksi Tegas Diapresiasi Publik
Salah satu pilar utama penopang kokohnya draf kepercayaan publik ini adalah ketegasan unsur pimpinan dalam mengeksekusi draf pembersihan internal secara transparan. Publik secara luas mengapresiasi keberanian korps yang tidak segan menjatuhkan sanksi berat atas pelanggaran kode etik anggotanya, dengan rincian dukungan publik sebagai berikut:
Penindakan Penembakan di Luar Prosedur: Didukung oleh 94,3 persen responden.
Penindakan Aksi Kekerasan Berlebihan: Didukung oleh 88,6 persen responden.
Tindakan Penegakan Kasus Perselingkuhan: Didukung oleh 80,8 persen responden.
Komitmen Pemberantasan Penyelundupan Narkoba: Didukung oleh 80,3 persen responden.
Namun demikian, Dewan Pembina Ikatan Keluarga Alumni ITB (IKA ITB) ini mengingatkan agar tingginya angka keyakinan 82,4 persen ini disikapi secara bijak sebagai draf mandat kerja dari rakyat, bukan sebagai lembar sertifikat kelulusan. Jarak (gap) sebesar 14,8 poin antara keyakinan masa depan (82,4 persen) dengan realisasi kepuasan saat ini (67,6 persen) merupakan ruang tantangan riil bagi Kapolri beserta jajaran dari tingkat Polda hingga Polsek.
Apalagi, data Litbang Kompas dengan jujur menangkap draf keluhan masyarakat, di mana masih ada 23 persen responden yang mengeluhkan arogansi oknum petugas serta 19,5 persen warga yang menyoroti praktik pungutan liar (pungli).
Haidar menyarankan agar temuan evaluatif ini dijadikan draf kebijakan strategis untuk memperkeras operasi bersih-bersih internal melalui standardisasi mutu pelayanan hingga unit terkecil demi melunasi utang kinerja kepada seluruh rakyat Indonesia.
*(Drw)











