Survei Haidar Alwi Institute Catat Kepercayaan Publik Kepada Korps Bhayangkara Tembus Delapan Puluh Persen

Etika Komite Reformasi Polri: Antara Koreksi dan Delegitimasi
Ir. R Haidar Alwi, MT.,(Dok. Ist)

Faktapalu.id — Sebuah tonggak sejarah baru yang monumental berhasil ditorehkan dalam perjalanan kedaulatan agraria nasional. Berdasarkan draf data resmi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia yang tercatat konsisten melakukan impor jagung sejak tahun 1973 akhirnya sukses menghentikan total aktivitas impor komoditas tersebut pada tahun 2026, bahkan kini mulai berbalik arah mengeksekusi pengiriman ekspor ke pasar global.

Setelah lebih dari lima dekade atau tepatnya 53 tahun bergantung pada pasokan rantai logistik luar negeri, capaian swasembada ini menjadi bukti empiris bahwa program strategis nasional di sektor pangan mulai membuahkan hasil nyata. Keberhasilan ini terwujud berkat sinergi taktis lintas sektoral yang bergerak harmonis di lapangan.

Merespons pencapaian strategis tersebut, Cendekiawan sekaligus Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, Ir. R. Haidar Alwi, MT, menilai keberhasilan historis ini merupakan buah manis dari ketegasan garis kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang sejak awal menempatkan program swasembada pangan sebagai pilar prioritas tertinggi ketahanan nasional.

“Mengakhiri impor jagung setelah lebih dari lima puluh tahun bukan sekadar keberhasilan meningkatkan produksi retail. Ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia mampu mengubah jalannya sejarah ketika kepemimpinan nasional memiliki kebijakan yang tepat, kerja keras petani dihargai, dan pengabdian seluruh institusi negara berjalan dalam satu komando tujuan,” tegas Ir. R. Haidar Alwi dalam keterangan persnya di Jakarta, Jumat (26/6/2026).

Sinergi Transformasi PRESISI: Polri Kawal Distribusi Pupuk dan Benih Unggul

Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute (HAI) ini memaparkan, keterlibatan aktif Korps Bhayangkara dalam mengawal draf program swasembada jagung nasional terbukti memberikan daya dorong (leverage) yang signifikan. Aparat kepolisian di tingkat tapak mampu memberikan kontribusi taktis di luar tugas utamanya melalui pendampingan kepada kelompok tani, pengawalan distribusi sarana produksi, serta penegakan hukum terhadap potensi penyelewengan logistik pertanian.

Haidar mengingatkan bahwa keberhasilan menghentikan impor jagung ini tidak boleh membuat pembuat kebijakan berpuas diri. Tantangan makro berikutnya adalah menjaga konsistensi produksi dan memastikan penguatan empat pilar utama ketahanan pangan, yang meliputi:

  • Ketersediaan pangan secara kontinu di seluruh wilayah.

  • Kemudahan akses fisik maupun ekonomi bagi konsumen.

  • Pemanfaatan yang optimal berbasis gizi.

  • Stabilitas pasokan serta harga komoditas di tingkat pasar.

Guna mempertahankan prestasi ini, pemerintah didesak untuk terus mempermudah draf akses permodalan KUR bagi petani serta memperluas sebaran benih unggul yang memiliki karakteristik cepat tumbuh, tahan serangan hama, dan adaptif terhadap fluktuasi cuaca ekstrem.

Selain itu, transparansi draf data administrasi kuota pupuk subsidi wajib diselaraskan dengan kondisi riil kebutuhan lapangan agar para petani menerima pasokan pupuk dalam jumlah cukup dan tepat waktu.

Survei HAI: Berhasil Kawal Agenda Strategis, Jenderal Listyo Sigit Mengukir Sejarah

Lebih lanjut, pembenahan dari hulu ke hilir juga harus menyentuh draf tata niaga hasil panen guna memotong rantai spekulan atau tengkulak nakal yang kerap menekan posisi tawar petani. Penguatan kelembagaan melalui koperasi unit desa, penyediaan fasilitas industri pengolahan pascapanen, serta pembangunan gudang penyimpanan (silo) modern berskala besar menjadi instrumen mutlak yang harus segera direalisasikan.

Di sisi lain, Haidar Alwi membeberkan hasil draf dokumen ilmiah terbaru yang digodok oleh lembaganya. Berdasarkan hasil draf Survei Haidar Alwi Institute yang dilaksanakan pada periode Maret hingga April 2026, tingkat kepercayaan publik terhadap institusi Polri melesat menyentuh angka 87,3 persen.

Kombinasi antara tingginya rapor persepsi publik serta kesuksesan nyata Korps Cokelat di bawah komando Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dalam mengawal berbagai agenda strategis nasional—termasuk mengakhiri drama 53 tahun impor jagung—menjadi landasan objektif yang sangat kuat.

“Data capaian dan indikator kinerja ini menjadi dasar penilaian kami bahwa Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo sangat layak dinobatkan sebagai salah satu Kapolri terbaik sepanjang sejarah berdirinya bangsa ini. Tugas kita sekarang adalah memastikan setiap petani tersenyum karena sejahtera, dan Indonesia semakin kokoh berdiri sebagai bangsa yang berdaulat secara pangan,” pungkas Dewan Pembina IKA ITB tersebut.

*(Drw)