Faktapalu.id – Pasar logam mulia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah sempat terpuruk ke titik terendah dalam empat bulan terakhir. Pada penutupan perdagangan Senin (23/3/2026), harga emas perlahan merangkak naik menyusul dinamika geopolitik global yang sedikit mereda.
Sentimen positif ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Langkah Washington tersebut memberikan sedikit ruang napas bagi stabilitas pasar global, meskipun ketidakpastian di kawasan Timur Tengah masih tergolong sangat tinggi.
Tekanan Suku Bunga dan Koreksi Harga
Meski ada pemulihan tipis, emas secara teknikal tetap berada dalam tren penurunan selama sembilan hari berturut-turut. Harga emas spot terkoreksi 1,8 persen ke level 4.407,06 dolar AS per ons. Penurunan kumulatif ini dipicu oleh ekspektasi pasar bahwa suku bunga global akan tetap tinggi dalam waktu lama.
Kondisi suku bunga tinggi membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas kehilangan daya tariknya jika dibandingkan dengan aset berbunga lainnya. Secara keseluruhan, harga emas telah anjlok lebih dari 15 persen sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu, yang sempat memicu aksi jual masif di pasar komoditas.
Harga Minyak Melandai, Investor Menunggu
Di sisi lain, harga minyak dunia mulai melandai seiring melunaknya sikap Amerika Serikat terhadap eskalasi di Timur Tengah. Namun, pasar tetap waspada karena pihak Iran membantah adanya komunikasi negosiasi terkait penundaan serangan tersebut, yang mengindikasikan situasi masih sangat dinamis.
Para investor saat ini cenderung bersikap wait and see sambil memantau perkembangan harian di zona konflik. Stabilitas harga emas ke depan akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi AS serta kepastian langkah militer maupun diplomatik yang diambil oleh negara-negara besar dalam beberapa pekan mendatang.
(*Drw)











