Faktapalu.id — Kasus infeksi Hantavirus kembali menjadi perhatian dunia menyusul munculnya wabah di kapal pesiar berbendera Belanda, MV Hondius. Virus yang menyerang sejumlah penumpang tersebut diketahui berasal dari strain Andes, jenis hantavirus yang dapat memicu gangguan pernapasan serius hingga kematian.
Hingga Selasa (12/5/2026), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat terdapat 11 kasus terkait wabah tersebut, dengan sembilan orang terkonfirmasi positif dan tiga orang dilaporkan meninggal dunia. Penularan virus ini umumnya berasal dari partikel urine, air liur, atau kotoran tikus yang terhirup oleh manusia.
Pengembangan Vaksin mRNA Pertama di Dunia
Di tengah meningkatnya perhatian global, tim peneliti dari Universitas Bath, Inggris, tengah mengembangkan vaksin mRNA pertama di dunia untuk melawan virus hantaan. Proyek yang didukung pemerintah Inggris sejak 2024 ini dipimpin oleh ahli kimia sekaligus CEO EnsiliTech, Asel Sartbaeva.
Vaksin eksperimental ini membawa inovasi melalui teknologi ensilikasi, yang memungkinkan:
Ketahanan Suhu: Vaksin dapat disimpan pada suhu lebih tinggi tanpa ketergantungan pada suhu beku ekstrem.
Distribusi Mudah: Mempermudah pengiriman ke wilayah terpencil dengan infrastruktur pendingin yang minim.
Tantangan Strain Andes
Meskipun menunjukkan hasil menjanjikan dalam uji laboratorium pada hewan, para peneliti belum memastikan apakah vaksin ini efektif melawan strain Andes yang mewabah di MV Hondius. Per 17 Mei 2026, pengujian lebih lanjut masih terus dilakukan. Hingga saat ini, hantavirus belum memiliki obat maupun vaksin khusus yang disetujui secara luas, menjadikan riset ini langkah krusial dalam menghadapi ancaman pandemi zoonosis di masa depan.
*(Drw)









