Menuju Akuntabilitas Fiskal, Kemenkeu Buru Keuntungan Ekspor Kelapa Sawit ke Amerika Serikat

Realisasi Pajak 2025 Belum Capai Target Maksimal
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa/(instagram )

Faktapalu.id — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengambil sikap tegas terhadap sejumlah korporasi raksasa eksportir minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) yang diduga kuat melakukan manipulasi harga ekspor. Pemerintah mendesak perusahaan-perusahaan konglomerasi tersebut untuk segera melunasi seluruh kewajiban pajak dan keuangan mereka kepada negara berdasarkan hasil pemeriksaan resmi.

Purbaya mengungkapkan bahwa data konkret mengenai dugaan penyelewengan ini sudah dikantongi secara rapi oleh otoritas fiskal selama tiga bulan terakhir. “Data itu sudah ada tiga bulan lalu. Nanti kita lihat apa yang terbaik, tetapi yang jelas kita nggak akan membuat perusahaan itu tutup. Dia harus membayar kewajiban sesuai dengan nanti pemeriksaan,” kata Purbaya saat ditemui di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (26/5/2026).

Modus Transfer Pricing Melalui Broker Singapura

Dalam penjelasannya, Purbaya membeberkan modus operandi yang jamak digunakan oleh para eksportir nakal. Mereka disinyalir memanfaatkan praktik transfer pricing melalui perusahaan perdagangan (trading) terafiliasi yang berbasis di Singapura.

Melalui skema tersebut, harga ekspor CPO dari pelabuhan domestik sengaja dicatat jauh lebih rendah dari nilai pasar yang sebenarnya. Setelah komoditas masuk ke Singapura, barang baru dijual kembali ke negara tujuan akhir seperti Amerika Serikat dengan harga normal, sehingga terjadi selisih keuntungan sangat besar yang diparkir di luar negeri.

“Mungkin lebih ke transfer pricing ya, di sini benar, di sananya salah. Jadi data ekspor dia lebih rendah daripada yang seharusnya, 50 persen di bawah kira-kira gitu,” pungkas Purbaya menjelaskan dampak buruk manipulasi tersebut terhadap pencatatan nilai ekspor nasional.

Wilmar, Musim Mas, dan Salim Ivomas Masuk Daftar Periksa

Ketika dikonfirmasi oleh awak media mengenai identitas korporasi besar yang masuk dalam radar pengawasan ketat pemerintah, Menteri Keuangan tidak membantah. Ia membenarkan dua nama konglomerasi sawit terbesar di Indonesia masuk dalam daftar utama.

“Itu dua betul. Dua-duanya (betul),” tegas Purbaya merujuk pada nama Wilmar International dan Musim Mas Group.

Selain kedua raksasa komoditas tersebut, Purbaya juga menyebutkan bahwa emiten sawit milik Grup Salim, PT Salim Ivomas Pratama Tbk, kemungkinan besar turut masuk ke dalam daftar eksportir yang tengah diperiksa secara intensif oleh pemerintah terkait kepatuhan pajaknya. Pemerintah memastikan proses audit akan berjalan objektif dan terukur demi mengembalikan potensi penerimaan negara yang hilang tanpa mengganggu keberlangsungan operasional industri kelapa sawit domestik.

*(Drw)