Faktapalu.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pada era Presiden Prabowo Subianto mulai memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Dengan target ambisius mencapai 82 juta penerima manfaat pada akhir tahun 2026, program ini bertransformasi menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan dari hulu ke hilir.
Kehadiran program nasional ini tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi pelajar, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi baru yang kuat di tingkat pedesaan.
Ribuan Dapur SPPG Serap Tenaga Kerja Lokal
Hingga saat ini, tercatat sebanyak 22.275 unit dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi di seluruh penjuru tanah air. Operasional dapur-dapur ini terbukti efektif menyerap ribuan tenaga kerja lokal, mulai dari pengolah makanan hingga tenaga logistik.
Kehadiran SPPG menciptakan permintaan yang stabil terhadap berbagai komoditas pangan utama seperti telur, sayuran, dan daging. Hal ini memberikan angin segar bagi para petani dan peternak lokal karena mendapatkan kepastian pasar dan harga yang lebih stabil, sekaligus memutus rantai distribusi yang selama ini merugikan produsen kecil.
Solusi Menekan Laju Urbanisasi
Founder CICSR, Muhammad Makmun Rasyid, menilai bahwa keberhasilan ekosistem MBG dapat menjadi solusi efektif untuk menekan laju urbanisasi. Dengan hidupnya roda ekonomi di tingkat desa, generasi muda kini memiliki peluang besar untuk tetap tinggal dan membangun daerahnya sendiri.
“Dengan ekosistem ekonomi yang hidup di desa, generasi muda kini memiliki peluang besar untuk terlibat dalam sektor pertanian modern,” ujar Makmun, Selasa (24/2/2026).
Ia menambahkan bahwa dukungan teknologi pertanian dan kemudahan akses pembiayaan menjadi kunci utama agar peluang emas dari program MBG ini bisa dimanfaatkan secara maksimal. Jika dikelola secara berkelanjutan, MBG diprediksi akan menjadi pilar utama dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa secara masif di tahun-tahun mendatang.
(*Drw)











