Faktapalu.id – Dalam perang modern, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh rudal presisi atau jet tempur canggih. Menurut Ir. R Haidar Alwi, MT., pemikir bangsa sekaligus Dewan Pembina Ikatan Keluarga Alumni ITB, kemenangan justru sering kali ditentukan oleh energi. Dalam konflik terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, minyak menjadi faktor penentu yang membuat Washington tersudut.
Analisis yang disampaikan pada Rabu (11/3/2026) ini menyebutkan bahwa AS sesungguhnya telah kalah. Kekalahan ini bukan karena militer Iran lebih unggul secara konvensional, melainkan karena kemampuan Teheran mengguncang sistem energi dunia melalui kontrol atas Selat Hormuz.
Selat Hormuz Sebagai Senjata Strategis
Haidar Alwi memaparkan bahwa sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Saat konflik meletus pada akhir Februari 2026, Iran segera mengubah selat tersebut menjadi senjata strategis. Dampaknya instan; lalu lintas kapal tanker anjlok hingga 97 persen, menghentikan aliran energi dari Teluk Persia ke pasar global.
“Dunia langsung panik. Harga minyak melonjak mendekati US$120 per barel. Infrastruktur energi di kawasan Teluk, dari Qatar hingga Arab Saudi, mulai terganggu. Di titik inilah Iran memahami keunggulan strategisnya,” tulis Haidar dalam opininya.
Paradoks Geopolitik Abad ke-21
Tekanan internasional pun muncul seketika. Negara-negara industri dan G7 mulai mendesak de-eskalasi karena risiko resesi global yang nyata. Haidar menilai, pernyataan Presiden AS yang menyebut konflik “hampir selesai” adalah bukti bahwa Washington tidak bebas menggunakan kekuatan militernya tanpa batas karena keterikatan pada sistem ekonomi global.
Strategi Teheran bukanlah memenangkan perang militer total, melainkan menaikkan biaya ekonomi perang hingga level yang tidak bisa ditoleransi dunia. “Yang menentukan bukan siapa yang menembakkan rudal terakhir, tapi siapa yang mampu membuat perang menjadi terlalu mahal untuk dilanjutkan. Dalam hal ini, Iran menemukan senjata yang lebih kuat dari rudal: minyak,” pungkas Haidar Alwi.
(*Drw)









